Oleh: mujahid36 | 25 Maret 2010

Wahai wanita yang diperdaya, sadarlah!

Perdana Menteri Inggris Nyonya Margareth Tatcher dalam wawancaranya dengan salah satu stasiun televisi mengatakan bahwa sesungguhnya sudah saatnya sekarang ini pemerintah ikut campur dalam menangani nasib bayi-bayi yang dilahirkan akibat hubungan tidak resmi antara laki-laki dan perempuan.

Hasil statistik menunjukkan bahwa 25% para bayi tersebut akan mendapatkan fasilitas yang cukup memadai bila hubungan antara kedua orang tuanya tetap berlangsung. Akan tetapi, kebanyakan kasusnya berakhir dengan hubungan yang berantakan antara keduanya, sehingga sang ibu sendirilah yang terpaksa harus memelihara bayinya tanpa ada dukungan moral maupun material dari pihak ayah si bayi.

Oleh karena itulah, Perdana Menteri Tatcher, sebagaimana yang dikutip oleh harian Asy-Syarqul Ausath (Middle East), menjelaskan bahwa pihak pemerintah akan mengambil beberapa langkah untuk menekan para ayah agar mau ikut memikul bagian dari tanggung jawabnya terhadap nasib anak-anak mereka hasil hubungan tidak resminya.

Hasil statistik menunjukkan bahwa dalam tenggang waktu antara tahun 1979 hingga tahun 1987 bilangan kaum pria dan kaum wanita yang terlibat dalam hubungan tidak resmi ini melonjak drastis hingga jumlahnya mencapai tiga kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya. Dari kedua jenis yang melakukan hidup kumpul kebo tanpa pernikahan ini terdapat 2 juta orang dan dari hasil kumpul kebo atau hubungan tidak resmi tersebut, terlahirkan 400.000 bayi tidak resmi.

Jumlah yang mengejutkan ini mendorongng pihak yang berkompeten untuk meninjau kembali peraturan yang mengatur hubungan antar manusia, sebagaimana kondisi ini mendesak sang perdana menteri untuk mengeluarkan keterangannya sebagai berikut: “Kondisi yang mengecewakan ini merupakan kesinambungan dari fenomena kehidupan sosial yang menyimpang, dimulai sejak tahun 60an seiring dengan merebaknya kebebasan sex berakibat terhalangnya ribuan bayi yang terlahirkan dari hubungan tidak resmi untuk mendapatkan kehidupannya secara normal.”

Selanjutnya, Tatcher menutup pembicaraannya dengan mengatakan bahwa sudah menjadi hak bayi untuk hidup diantara kedua orangtuanya dan dalam lingkungan sosial yang resmi lagi permanen.

Tidak diragukan lagi bahwa pembicaraan perdana menteri ini merupakan kilas balik melawan arus kuat yang ada dalam tubuh masyarakat Britania. Melaluinya ia menyerukan kepada sesamanya untuk kembali kepada ahlaq dan norma-norma serta menghormati ikatan pernikahan sebagai ikatan suci yang mengarah untuk membangun keluarga dan bukan sebagai kesempatan untuk meraih kesenangan sementara yang bebas dari tanggung jawab.

sumber: Risalah Mukminah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: