Oleh: mujahid36 | 9 Februari 2010

Sifat Mandi Junub Rasulullah صلى الله عليه وسلم


Banyak dari kita barangkali yang tidak tahu bagaimana tata cara Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam mandi junub/janabah। Karena hal ini sangat jarang dipelajari oleh kaum muslimin। Untuk itu adalah sangat perlu kita mengingat dan mempelajari untuk kemudian diamalkan tentang tata cara mandi junub Rasululloh agar kita benar-benar meneladani beliau dalam segala aspek kehidupan, tidak terkecuali dalam masalah mandi junub iniMungkin orang akan berkata, “Wah, mandi aja kok harus mencontoh Rasululloh?!, kan tinggal jebar-jebur saja…” Maka jawabnya, “ya, tidak hanya dalam masalah ibadah (sholat, puasa dan haji) saja yang perlu kita contoh dari Rasululloh, akan tetapi kita harus meneladani/mencontoh beliau dalam seluruh aspek kehidupan. Sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman, “Sungguh telah ada pada diri Rasululloh itu teladan yang baik.” (QS. Al-Ahzab:21) Adapun hadits yang menceritakan bagaimana tata cara mandi junubnya Rasululloh itu ada beberapa riwayat, diantaranya adalah; وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا اِغْتَسَلَ مِنْ اَلْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ, ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ, فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ, ثُمَّ يَتَوَضَّأُ, ثُمَّ يَأْخُذُ اَلْمَاءَ, فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ اَلشَّعْرِ, ثُمَّ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ, ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ, ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِمُسْلِم ٍ Artinya: Dari Aisyah Radhiallohu ‘anha (Istri Rasululloh) ia berkata, “Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam apa bila mandi janabah/junub, beliau memulainya dengan membasuh kedua tangannya, beliau mendahulukan membasuh yang kanan kemudian yang kiri, lalu beliau membasuh kemaluan/farj, kemudian berwudhu’, kemudian mengambil air dan memasukkan jari jemarinya ke pangkal-pangkal rambutnya, kemudian beliau menyiram kepalanya dengan tiga kali siraman, kemudian beliau membasahi/mengguyur seluruh tubuhnya, dan terakhir beliau membasuh kedua kakinya.” (Muttafaqun Alaihi/Hadits ini disepakati keshahihannya) [Lihat Shohih Bukhari: 262 dan Shohih Muslim: 316] Hadits ini senada dengan hadits yang diriwayatkan oleh Maimunah (Istri Rasululloh), ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى فَرْجِهِ, فَغَسَلَهُ بِشِمَالِهِ, ثُمَّ ضَرَبَ بِهَا اَلْأَرْضَ – وَفِي رِوَايَةٍ: – فَمَسَحَهَا بِالتُّرَابِ – Artinya: “….Kemudian beliau mendahulukan membasuh kemaluan/farj, membasuhnya dengan tangan kiri, lalu mengosok kedua tangannya ke tanah” Dan di akhir hadits yang diriwayatkan oleh Maimunah ini, ada lafadz, ثُمَّ أَتَيْتُهُ بِالْمِنْدِيلِ – فَرَدَّهُ, Artinya: “Kemudian aku (Maimunah) membawakan handuk untuknya, tapi beliau menolaknya.” Dari dua hadits (Aisyah dan Maimunah) yang kita perhatikan ini, ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil, yakni: 1. Seperti inilah sifat mandi junub Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam. 2. Mulailah mandi dengan membasuh kedua tangan (dimulai dengan tangan kanan), karena kedua tangan itu merupakan anggota tubuh yang paling digunakan untuk mengambil air dan membasuh anggota tubuh lainnya. 3. Mulailah membasuh kemaluan dengan tangan kiri serta menyiramkan air dengan tangan kanan. Lalu mengosokkan kedua tangan tersebut di tanah/dinding.[1] Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Maimunah diatas. 4. Kemudian berwudhu’lah sebagaimana wudhu saat hendak melakukan sholat. 5. Setelah itu, sampaikan air ke pangkal-pangkal rambut dengan jari jemari. 6. lalu, siramlah seluruh kepala dengan air sebanyak tiga kali. Sehingga basahlah bagian atas dari rambut kepala. 7. Kemudian, basuhlah seluruh tubuh dengan siraman air sekali saja. Hal ini sebagaimana hadits Aisyah diatas. Adapun dalam hadits tersebut dan hadits-hadits lain yang menceritakan mandi junub Nabi, tidak ada keterangan menyiramkan air ke seluruh tubuh dengan berulang-ulang. Yang ada hanya menyiramkan air ke kepala dengan 3 kali siraman. Dan inilah yang benar –Insya Alloh-. 8. Setelah itu, Membasuh kedua kaki sebagai akhir dari mandi junub. Dan dalam sebagian riwayat dari Maimunah, ada tambahan kalimat: “Kemudian Rasululloh bergeser dari tempatnya lalu membasuh kedua kakinya.” Maka sebelum membasuh kedua kaki, seharusnya kita bergeser dari tempat berdiri kita. 9. Tidak disukai mengeringkan badan dengan haduk atau sejenisnya, sebagaimana tidak disukai juga mengeringkan bekas-bekas air wudhu’. Karena air-air yang tersisa di badan itu adalah bekas-bekas dari ibadah. Sebagaimana dalam keterangan hadits diatas yang menceritakan bahwa Rasululloh menolak diberikan handuk untuk mengeringkan bekas-bekas mandinya. Demikianlah tata cara Mandi Junub Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam berdasarkan hadits-hadits shohih. Maka apa yang datang dari Rasululloh, Ambillah..! [Disarikan dari kitab: Taudhihul Ahkam, Abdullah al-Bassam, jilid 1, dan Buluguhul Maram, Ibnu Hajar Al-Asqalani] [1] Adapun hikmah menggosokkan kedua tangan tersebut ke tanah adalah agar tidak ada najis/kotoran atau Mani yang tersisa. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Taudhihul Ahkam Karya Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam, Hal. 396 Sumber: http://alatsar.wordpress.com/2009/04/07/sifat-mandi-junub-rasululloh/// <![CDATA[//


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: